1. Prinsip Gizi Pada Ibu Nifas Dan Menyusui
A. Gizi pada ibu nifas
1. Makanan yang dianjurkan selama nifas
Makanan
yang disarankan dikonsumsi pada kelompok Ibu yang makan saat pasca persalinan
adalah roti, biskuit, sayuran dan buah-buahan, yogurt rendah lemak, sup,
minuman isotonik dan jus buah-buahan (O’Sullivan et al, 2009). Menurut Elias
(2009) Nutrisi dan hidrasi sangat penting selama proses persalinan untuk
memastikan kecukupan energi dan mempertahankan kesimbangan normal cairan dan
elektrolit bagi Ibu dan bayi. Cairan isotonik dan makanan ringan yang
mempermudah pengosongan lambung cocok untuk awal persalinan. Jenis makanan dan
cairan yang dianjurkan dikonsumsi pada Ibu bersalin adalah sebagai berikut
(Champion dalam Elias,2009):
Makanan:
1.Roti atau roti panggan (rendah serat) yang rendah lemak baik diberi selai ataupun madu.
2.Sarapan sereal rendah serat dengan rendah susu.
3.Nasi
4.Biskuit.
5.Yogurt rendah lemak.
6.Buah segar atau buah kaleng.
7.Minuman:
8.Minuman yogurt rendah lemak.
9.Jus buah-buahan.
10.Kaldu jernih.
11.Air mineral.
Ibu pasca melahirkan harus dimotivasi
untuk minum sesuai kebutuhan atau tingkat kehausannya. Jika asupan cairan Ibu
tidak adekuat atau mengalami muntah, dia akan menjadi dehidrasi (Micklewirght
& Champion, 2002 dalam Thorpe et al, 2009). Salah satu gejala dehidrasi
adalah kelelahan dan itu dapat mengganggu kemajuan persalinan dan menyulitkan
bagi Ibu untuk lebih termotivasi dan aktif selama menyusui.
B. gizi pada ibu menyusui
Berikut ini merupakan zat-zat gizi penting yang harus dipenuhi kebutuhannya oleh ibu menyusui.
1. Protein
Saat Anda menyusui, Anda masih membutuhkan tambahan asupan protein. Protein merupakan zat gizi penting yang diperlukan dalam membangun dan memperbaiki berbagai jaringan dalam tubuh. Protein juga sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi Anda di awal-awal masa kehidupannya. Untuk Anda sendiri, protein juga banyak dibutuhkan untuk membantu pemulihan setelah kehamilan dan persalinan. Anda bisa mendapatkan protein dari daging, ayam, ikan dan seafood, telur, keju, susu, yogurt, dan sumber protein lainnya.
2. Lemak
Lemak juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi Anda, tubuh Anda pun membutuhkan lemak. Namun, perlu diingat bahwa sebaiknya konsumsi lemak dalam bentuk lemak tidak jenuh tunggal atau tidak jenuh ganda, serta batasi konsumsi lemak jenuh dan lemak trans.
Sumber lemak tidak jenuh, yaitu alpukat, ikan berlemak (seperti ikan salmon), kacang-kacangan, biji-bijian, minyak zaitun, dan minyak kanola. Sedangkan, lemak jahat yang harus Anda hindari bisa bersumber dari makanan yang digoreng dan daging berlemak.
Selain itu, lemak yang ada dalam ikan berlemak juga mengandung turunan lemak, yaitu asam lemak omega-3. Di mana asam lemak omega-3 ini dapat mendukung pertumbuhan otak bayi. Anda bisa memeroleh asam lemak omega-3 dari ikan salmon, ikan tuna, ikan herring, ikan sarden, dan kacang-kacangan.
3. Zat besi
Kebutuhan zat besi masih tinggi pada ibu menyusui. Zat besi dibutuhkan untuk mencegah anemia setelah melahirkan. Jika Anda tidak anemia setelah melahirkan dan menyusui secara eksklusif, biasanya Anda tidak memerlukan suplemen zat besi. Hal ini karena biasanya Anda tidak mengalami periode menstruasi selama 4-6 bulan pertama setelah melahirkan, jadi tidak ada zat besi yang hilang melalui darah menstruasi. Sedangkan, ibu yang mengalami anemia setelah melahirkan biasanya membutuhkan suplemen zat besi.
Anda bisa mencukupi kebutuhan zat besi Anda dari konsumsi daging, ayam, ikan dan seafood, kuning telur, dan sayuran hijau (seperti bayam dan brokoli).
4. Kalsium
Tidak hanya saat hamil, kebutuhan tinggi kalsium juga diperlukan saat Anda menyusui. Kehamilan dan menyusui dapat menyebabkan penurunan massa tulang sementara. Namun, penurunan massa tulang ini biasanya akan kembali lagi setelah Anda berhenti menyusui. Jangan khawatir, Anda bisa mencegah penurunan massa tulang ini dengan mengonsumsi kalsium dalam jumlah yang lebih tinggi selama hamil dan menyusui.
Anda bisa memeroleh kalsium dari susu dan produk susu (seperti keju dan yogurt), serta sayuran hijau (seperti bayam, brokoli, sawi hijau, daun kale, dan lainnya).
5. Vitamin C
Ibu menyusui membutuhkan lebih banyak vitamin C daripada saat dirinya masih hamil. Vitamin C berperan dalam pertumbuhan dan perbaikan jaringan, sehingga sangat diperlukan oleh ibu dan bayi. Vitamin C penting dalam pertumbuhan tulang, gigi, dan kolagen. Anda bisa mendapatkan vitamin C dari jeruk, brokoli, kentang, tomat, kiwi, kol, jambu biji, mangga, dan lainnya.
6. Vitamin E
Vitamin E juga dapat membantu Anda dalam mencegah anemia setelah melahirkan. Vitamin E juga kaya antioksidan yang dapat melindungi mata dan paru-paru bayi dari berbagai masalah karena kekurangan oksigen. Selain itu, vitamin E juga berperan dalam menjaga kesehatan otot, sistem kardiovaskular, dan sistem saraf. Beberapa sumber makanan yang mengandung vitamin E adalah kacang almond, bayam, asparagus, mangga, alpukat, dan selai kacang.
7. Kalium
Kalium berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Pada saat menyusui, Anda membutuhkan lebih banyak cairan karena Anda memproduksi ASI setiap harinya. Peningkatan kebutuhan cairan ini diikuti dengan peningkatan kebutuhan kalium untuk membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Selain itu, kalium juga berperan dalam kerja sistem saraf dan juga kontraksi otot.
Anda sangat mudah dalam menemukan kalium karena terdapat di banyak makanan, seperti kentang, pisang, jeruk, tomat, bayam, kacang almond, dan lainnya.
8. Kolin
Kolin sangat penting untuk perkembangan otak bayi Anda. Namun, kolin tidak mudah ditemukan di dalam banyak makanan. Anda dapat memeroleh kolin dari ayam, hati sapi, gandum, kembang kol, dan telur, terutama kuning telur. Anda bisa mendapatkan 250 mg kolin dalam 2 butir telur.
Prinsip
Gizi Bagi Ibu Menyusui
Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Bila pemberian ASI berhasil baik, maka berat badan bayi akan meningkat, integritas kulit baik, tonus otot serta kebiasaan makan yang memuaskan Ibu menyusui tidaklah terlalu ketat dalam mengatur nutrisinya, yang terpenting adalah makanan yang menjamin pembentukan air susu yang berkualitas dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya.
C. Faktor yang mempengaruhi gizi ibu menyusui Dan ibu nifas adalah :
Faktor pengaruh gizi ibu menyusui :
Ø Pengaruh makanan erat kaitannya dengan volume ASI yang diproduksi per hari.
Ø Protein, dengan adanya variasi individu maka dianjurkan penambahan 15-20 gram protein sehari.
Ø Suplementasi, jika makan sehari seimbang, suplementasi tidak diperlukan kecuali jika kekurangan satu atau lebih zat gizi.
Faktor pengaruh gizi pada ibu nifas :
Ø Umur.
Ø Berat badan.
Ø Suhu lingkungan.
Ø Aktivitas.
Ø Status kesehatan.
Ø Status ekonomi.
D. Pengaruh Status Gizi Pada Pasca Persalinan Dan Menyusui :
Pengaruh gizi pada ibu menyusui adalah
Kebutuhan nutrisi selama laktasi didasarkan pada kandungan nutrisi air susu dan jumlah nutrisi penghasil susu. Ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat makanan 800 Kkal yang digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktivitas ibu itu sendiri.
Pengaruh gizi pada ibu pasca bersalin
Pengaruh gizi pada ibu pasca melahirkan yaitu bisa meningkatkan risiko anemia padaibu, karna kekurangan zat besi pada tubuhnya,untuk itu selalu penuhi asupan gizi setelah pasca melahirkan.
2. Merancang menu seimbang pada ibu pasca bersalin dan meyusui
A. menu seimbang pada ibu pasca bersalin
Kacang-kacangan
Kebutuhan gizi ibu menyusui meningkat dibandingkan dengan tidak menyusui dan masa kehamilan.
Ibu dalam 6 bulan pertama menyusui membutuhkan tambahan energi sebesar 500 kalori/hari untuk
menghasilkan jumlah susu normal.
Sehingga total kebutuhan energi selama menyusui akan meningkat menjadi 2400 kkal per hari yang
akan digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktivitas ibu itu sendiri8 yang dalam
pelaksanaannya dapat dibagi menjadi 6 kali makan (3x makan utama dan 3x makan selingan) sesuai
dengan Pedoman Gizi Seimbang yang dianjukan.
B. Memilih bahan makanan yang baik
Pilih buah dan sayuran yang bersih dan bebas dari kondisi busuk atau memar di beberapa bagian
Pilih makanan kaleng yang bentuk kemasannya
masih sempurna tapa bengkok dan berkarat
Untuk buah atau sayur yang sudah dipotong dan dikemas saat dibeli, pastikan Anda hanya
mengambilnya dari lemari pendingin atau wadah yang diberikan es. Untuk menyiasatinya, pilihlah
produk yang paling banyak, karena kemungkinan belum mengalami kenaikan suh
Saat meletakkan bahan makanan yang dibeli, pastikan untuk memisahkan kantong atau tas yang
memisahkan bawaan sayur dan buah dengan daging-dagingan atau makanan laut.
C. Mengelola bahan makanan
Pastikan seluruh alat-alat masak yang akan digunakan haruslah bersih dan steril.
Hindarilah mengolah makanan atau makan dengan tangan kotor.
Jangan memasak sambil bermain dengan hewan peliharaan.
Hindari menggunakan lap yang sudah kotor untuk membersihkan meja dan perabotan makan.
Lindungi dengan baik makanan jika hendak disimpan dalam waktu yang lama.
Makanan yang tersaji besar sekali terkontaminasi kotoran kuman dan bakteri akibat hewan yang berkeliaran di sekitarnya.
Penting adanya untuk meninjau kembali metode memasak. Teknik pengolahan makanan atau memasak juga memengaruhi mutu makanan. Pilihlah makanan yang telah melalui proses pengolahan termasak kukus, rebus atau tumis dengan sedikit minyak.
Kurangilah memasak olah makanan dengan metode menggoreng, memanggang dan dibakar.
B.
Menyajikan Makanan
Cara menyajikan makanan yang baik adalah :
Pilihlah piring/mangkuk dengan ukuran tepat.
Hindari overload.Terapkan piring adalah 'jam'
Menyusun secara vertikal.
Menyajikan jumlah ganjil dan hindari simetris.
Perhatikan kombinasi warna.
Gunakan garnish yang tepat.
Komentar
Posting Komentar