2.1 Pengertian Gizi dan Gizi Seimbang
Gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organisme melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:1). Gizi adalah zat-zat sebagai komponen pembangun tubuh manusia dalam rangka mempertahankan dan memperbaiki jaringan-jaringan agar fungsi tubuh manusia dapat berjalan sebagaimana mestinya (caramedis.com, 2016). Secara klasik kata gizi dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyeimbangkan energi, membangun, dan memelihara jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh (Almatsier, S., 2001:3).
2.2 Prinsip Gizi untuk Bayi
Kebutuhan gizi bayi berbeda dengan kebutuhan anak dan orang dewasa. Bayi memerlukan karbohidrat dengan bantuan amilase untuk mencerna bahan makanan yang berasal dari zat pati. Protein yang diperlukan berasal dari ASI ibu dengan kadar 4-5% dari total kadar kalori dalam ASI. Lemak yang diperlukan 58% dari kalori dalam susu matur. Mineral yang diperlukan terdiri atas kalsium, pospor, klor, kalium dan natrium untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Untuk vitamin yang dibutuhkan bervariasi sesuai dengan dietyang dilakukan oleh ibu (Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:51-52). Setelah umur 6 bulan, setiap bayi membutuhkan makanan lunak yang bergizi sering disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Dalam keadaan darurat, bayi dan balita seharusnya mendapat MP-ASI untuk mencegah kekurangan gizi. Untuk memperolehnya perlu ditambahkan vitamin dan mineral (variasi bahan makanan) karena tidak ada makanan yang cukup untuk kebutuhan bayi.
Balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anak usia lebih dari satu tahun sampai tiga tahun yang dikenal dengan “batita” dan anak usia lebih dari tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal dengan usia “prasekolah”. Batita sering disebut konsumen pasif, sedangkan usia prasekolah lebih dikenal sebagai konsumen aktif. Anak dibawah lima tahun merupakan kelompok yang menunjukkan perkembangan yang pesat namun tersering menderita kekurangan gizi. Gizi ibu yang kurang pada waktu konsepsi atau sedang hamil dapat berpengaruh pada pertumbuhan semasa balita. Bila gizi buruk maka perkembangan otaknya kurang dan akan berpengaruh pada kehidupan balita diusia prasekolah dan sekolah (Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:62-63).
2.3 Macam Macam Makanan Bagi BAYI
Banyak
ibu muda, khususnya yang baru pertama kali mengalami memiliki buah hati,
mengalami kerancuan dan kebingungan dalam memilih makanan bayi yang paling
tepat dan bagaimana cara yang benar pemberiannya. Tidak sedikit ibu muda yang
telah melakukan konsultasi malah semakin bingung, karena jawaban dari
masing-masing pihak berbeda. Makanan, selain menjadi sumber bahan bakar energi
pada tubuh manusia, seperti kita ketahui, makanan juga sebagai faktor penunjang
untuk tumbuh kembang tubuh anak, pada khususnya bayi. Dimana siklus pertumbuhan
bayi sangatlah pesat. Dari paska lahir,
berat bayi yang mencapai rata-rata 3 kg, dalam kurun waktu satu tahun pertumbuhannya
bisa mencapai sekitar 9 kg. Pada prinsipnya, bayi
memerlukan pemberian makanan secara bertahap. Dari tahap awal yang dimulai dari
yang cair, lalu setengah padat, kemudian padat dan dilanjutkan makanan biasa
berupa nasi dan lauk pauk. Tidak ketinggalan asupan air, vitamin, serta mineral untuk bayi haruslah
cukup, Walau demikian, kondisi bayi menentukan kesiapan
menerima asupan makanan. Karena pada prakteknya pemberian makanan bersifat
individual. Belum tentu semua bayi usia 4 bulan siap diberi bubur susu. Kondisi fisik bayi juga menentukan kesiapan menerima
jenis asupan makanan. Kondisi fisik bayi meliputi berat dan tinggi badannya.
Dimana dalam hal ini dokter anak-lah yang memiliki kompetensi khusus yang
menilai. ASI
Bagaimanapun yang terpenting, air
susu ibu (ASI) adalah asupan terpenting pada bayi. ASI, selain mengandung semua
zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi, ASI juga mengandung
macam-macam substansi anti-infeksi yang mampu melindungi bayi terhadap berbagai
infeksi. Pada masa usia bayi melewati 4 bulan, bayi memerlukan makanan tambahan
seperti bubur susu, biskuit dan buah-buahan. Kemudian bubur saring (nasi tim
yang dihaluskan) mulai usia 6 bulan dan di usia 9 bulan sudah bisa diberikan
nasi tim.
Susu Formula
Jika Anda mengkombinasikan ASI
dengan susu formula, sebaiknya pilih susu formula yang komposisinya paling
mirip ASI. Mintalah petunjuk dokter. Begitu pun cara meramu formula dan berapa
banyak formula yang akan diberikan pada bayi Anda. Ada berbagai keadaan yang
bisa membuat menyusui tidak praktis atau tidak dianjurkan. Ibu-ibu yang tidak
bisa menyusui tidak boleh merasa tidak cakap atau bersalah. Sebaiknya susu
formula diberikan setelah berkonsultasi dengan dokter dan para profesional ASI.
Buah-buahan
Selain menjadi sumber vitamin
dan mineral, buah-buahan juga menjadi sumber serat yang bagus. Menginjak usia
6-8 bulan, bayi bisa diberikan buah-buahan seperti jeruk, pepaya, pisang, dan
tomat. Buah bisa diberikan dalam bentuk jus. Khusus tomat, rebuslah lebih dulu
setelah dicuci bersih, lalu disaring untuk diambil airnya. Atau, si buah hati
bisa diperkenalkan ‘finger foods’, yaitu snack yang dapat dimakan oleh bayi
sendiri (tidak perlu disuapi), seperti buah yang dipotong-potong ukuran kecil
sehingga bayi dapat makan sendiri. Makanan halus ini diberikan 2-3x/hari.
Buah-buahan lainnya seperti melon, alpukat, semangka, pir, dan lainnya dapat
diberikan mulai usia 6 bulan. Namun hindari buah-buahan yang bergetah. Karena
dapat menimbulkan diare seperti sawo, nenas, durian, mangga dan lainnya.
Pada tahap awal, berikanlah kira-kira 30-50 ml air buah sebagai pengenalan pada
kondisi pencernaan bayi, pantau reaksi yang timbul. Jika setelah minum air
jeruk, timbuil diare, gantilah dengan buah lain pada pemberian berikutnya yang
lebih cocok. Namun satu hal terpenting, cuci bersih setiap buah sebelum
diberikan pada bayi.
Makanan Padat
Menginjak usia 4-5 bulan bayi
sudah bisa diberikan makanan pada. Makanan padat pertama yang diperkenalkan
hendaknya masih dalam bentuk lunak agar mudah dicerna bayi, bisa berupa dalam
bentuk bubur susu. Bubur susu biasanya terbuat dari bahan tepung serelia seperti beras, maizena,
terigu atau havermout, ditambah susu dan gula. Pembuatan bubur susu bisa
dilakukan dengan dibuat sendiri atau membeli bubur susu instan. Namun penting
diingat, jika membeli bubur instant, jangan pernah lupa untuk memeriksa tanggal
kadaluarsanya. Memasuki usia 6 bulan bayi dapat diperkenalkan pada makanan
padat berikutnya, seperti halnya nasi tim. Nasi tim biasanya terdiri dari bubur
beras ditambah lauk berprotein hewani maupun nabati ditambah sayuran seperti
wortel dan bayam.
Makanan Selingan
Makanan
selingan bagi bayi biasanya hadir berupa dalam bentuk biskuit yang memang
dibuat khusus untuk bayi. Perkenalan makanan selingan bisa diberikan disaat bayi menginjak usia 4
bulan. Biskuit
bisa dicampur air matang ataupun susu. Namun jika bayi sudah dapat duduk,
berikanlah biskuit dalam bentuk kepingan. Hal ini lebih baik karena dapat melatih
melatih keterampilan jari-jemari tangannya (motorik halus) serta merangsang
pertumbuhan gigi pada bayi.
2.4 Cara Pengelolaan Makanan untuk Bayi
Pengelolaan makanan untuk bayi dan balita harus disesuaikan dengan umurnya. Pemberian makanan balita sebaiknya beraneka ragam dan pembentukan pola makanan perlu diterapkan sesuai pola makanan keluarga. Untuk bayi umur 6-9 bulan perlu dikenalkan dengan MP-ASI lumat 2 kali sehari dan menambahkan sedikit demi sedikit lemak seperti santan atau minyak kelapa untuk mempertinggi nilai gizi makanan. Untuk bayi umur 9-12 bulan mulai diberikan makanan selingan 1 kali sehari seperti pisang atau bubur kacang hijau. Bayi berumur 12-24 bulan mulai diberikan variasi makanan dan melatih menyapih dengan bertahap.
Untuk balita, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
1) Karbohidrat
Anak dibiasakan untuk mengonsumsi beragam sumber karbohidarat, seperti nasi, beras merah, kentang, ubi, singkong, mie, bihun maupun jagung.
2) Protein
Bisa didapat dari daging-dagingan, ikan-ikanan, hati, udang, kerang, tempe dan tahu. Pilih sumber protein yang mudah, murah, enak maupun berkualitas tinggi seperti telur.
3) Lemak
Anak-anak membutuhkan lebih banyak lemak dibandingkan orang dewasa karena tubuh mereka menggunakan energi yang lebih secara proposional selama masa pertumbuhan dan perkembangan mereka. Sumber lemak dalam dalam makanan bisa di dapat dalam : mentega, susu, daging, ikan, minyak nabati.
4) Vitamin Dan Mineral
Banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Semakin
hijau waran sayuran, makin banyak vitaminnya. Semakin kuning, merah, atau biru
warna daging buah, vitaminnya semakin kaya.
2.5 Faktor yang Memengaruhi Pemberian Makanan, Pertumbuhan, dan Perkembangan untuk Bayi
Faktor yang memengaruhi pemberian makanan pada bayi dan balita:
a) Kerjasama ibu dan bayi.
Dimulai pada saat kelahiran bayi dilanjutkan sampai dengan anak mampu makan sendiri. Makanan hendaknya menyenangkan bagi anak dan ibu. Ibu yang tegang, cemas, mudah marah merupakan suatu kecenderungan untuk menimbulkan kesulitan makan pada anak.
b) Memulai pemberian makan sedini mungkin.
Pemberian makan sedini mungkin mempunyai tujuan menunjang proses metabolisme yang normal, untuk pertumbuhan, menciptakan hubungan lekat ibu dan anak, mengurangi resiko terjadinya hipoglikemia, hiperkalemi, hiperbilirubinemia dan azotemia.
c) Mengatur sendiri.
Pada awal kehidupannya, seharusnya bayi sendiri yang mengatur keperluan akan makanan. Keuntungannya untuk mengatur dirinya sendiri akan kebutuhan zat gizi yang diperlukan.
d) Peran ayah dan anggota keluarga lain.
e) Menentukan jadwal pemberian makanan bayi
f) Umur
g) Berat badan.
h) Diagnosis dari penyakit dan stadium (keadaan).
i) Keadaan mulut sebagai alat penerima makanan.
Indikator pertumbuhan yang sering digunakan adalah berat badan dan pertambahan berat, meskipun pertumbuhan panjang juga digunakan. Faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak terdiri atas sebab langsung dan tak langsung. Sebab langsung meliputi kecukupan pangan dan keadaan kesehatan, sedangkan sebab tak langsung meliputi ketahanan pangan keluarga, pola asuh anak, pemanfaatan pelayanan kesehatan, dan sanitasi lingkungan. Sepuluh faktor memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita:
a. Genetik
b. Saraf
c. Hormon
d. Gizi
e. Kecenderungan sekuler
f. Status sosial ekonomi
g. Cuaca dan iklim
h. Tingkat aktivitas
i. Penyakit
j.
Cacat lahir
2.6 Pengaruh Status Gizi Terhadap Perkembangan dan Pertumbuhan Bayi
Status
gizi pada masa balita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua,
karena kekuragan gizi pada masa ini akan menyebabkan kerusakan yang
irreversibel (tidak dapat dipulihkan) (Proverwati, A., & Wati, E,K.,
2011:76). Keadaan kurang gizi juga berasosiasi dengan keterlambatan perkembangan
motorik. Tidak hanya kekurangan gizi, kelebihan gizi pun akan mengakibatkan
obesitas dan terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan
(catursaptaningwilujeng.lecture.ub.ac.id, 2016). Status gizi dan bayi dapat
diketahui dengan cara mencocokkan umur bayi dengan berat badan standar dengan
mengguakan pedoman WHO-NCHS. Sedangkan parameter yang cocok digunakan untuk
balita adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Zat-zat
gizi yang dikonsumi bayi akan berpengaruh pada status gizi balita tersebut.
Perbedaan status gizi baduta memiliki pengaruh yang berbeda pada setiap
perkembangan bayi, apabila gizi seimbang yang dikomsumsi tidak terpenuhi,
pencapaian pertumbuhan dan perkembangan bayi terutama perkembangan motorik yang
baik akan terhambat
Komentar
Posting Komentar